Assalamualaikum...Selamat datang di Cepi's Notes. Sesuai judulnya, blog ini hanyalah berisi catatan-catatan pribadi saya tentang beberapa hal yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Karenanya, tentu tidak menjamin kepuasan Anda, hehehe... Terima kasih telah mampir.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sibuk Facebook*

Cepi Supriatna 

Suminah seorang ibu rumah tangga muda kini mendapat gelar baru, yaitu sebagai fesbuker sejati. Fesbuker sejati sendiri merupakan julukan yang diberikan teman-teman dia di fesbuk. Dijuluki demikian, karena Suminah orang yang paling rajin menulis status. Hampir setiap menit status fesbuknya diupdate. 

"Ehmm…suamiku hebat, terima kasih beiby," bunyi statusnya yang dibagikan pada malam Jumat pukul 04.00. Sontak, ratusan komentarpun bermunculan. Maklum, statusnya lumayan provokatif, apalagi ditulis pada malam Jumat. Sudah tentu orang-orang mengasosiasikannya dengan pergumulan cinta antara Suminah dan suaminya. Begitulah Suminah. Setelah dia kenal dengan fesbuk dua bulan yang lalu. Apapun yang dia alami selalu ditulisnya di status. 

"Uh, bau banget nih orang, " tulisnya ketika dia naik Metromini. 

"Wadowww….jerawatku sakit," tulisnya saat dia bercermin dan bermain dengan jerawat. Suaminya yang kebetulan seorang pegawai kantoran tidak peduli dengan kebiasaan Suminah. Pagi-pagi dia sudah berangkat, dan hampir menjelang magrib dia baru pulang. Setelah itu, dia menggarap kerjaan lagi, lalu tidur. Begitu seterusnya yang dia lakukan setiap hari. Suminah dibiarkannya anteng dengan fesbuknya. Hanya sesekali, ketika birahinya muncul dia memanggil Suminah. Mau tidak mau, Suminah pun harus menurut, dan menghentikan aktifitasnya di fesbuk. "Gapapa, biar ada bahan buat statusku," gumamnya dalam hati sambil tersenyum sendiri. 

"Inah off dulu ya, teman-teman, suamiku memanggil tuh. Hmmm….apa yang akan terjadi malam ini, ya? wkwkwkwk…." 
"Oke, ditunggu kabarnya ya!"
"Hayoh, mau ngapain, jeng? Semoga sukses ya!" 
"Hei, ikut dong!"
"Ah, kamu bikin ngiler aku." 
"Prikitieewwww…." Belum sempat Suminah menutup akunnya, beberapa komentar bermunculan. Suminah tersenyum, dan itu yang dia nantikan. Komentar dari teman-temannya. 

*** 
Setiap kali bertemu orang baru Suminah selalu menanyakan akun fesbuk. Termasuk kepada tukang sayur yang datang pagi itu.

"Bang, punya fesbuk, ga?" 
Si abang tukang sayur celingukan. Dia berpikir, kalau dia jawab tidak tahu, reputasi dia sebagai tukang sayur yang sudah berkelana melanglang buana akan runtuh dengan pertanyaan dari pelanggan barunya itu.

"Oh,…fesbuk, ya?" 

"Walaah,…sudah habis, Mbak. Tadi diborong sama Bu RW." "Besok deh, ya, saya bawakan," katanya, bingung sendiri tentang apa yang dia ucapkan.
"Ya, Allah abang, hari gini ga tau fesbuk. Capek deeh.." kata Suminah diikuti dengan runtuyan tawa.
"Fesbuk, sayuran apa, ya?" katanya sambil garuk-garuk kepala. Kali ini si abang benar-benar merasa sudah jatuh reputasinya. 

"Tenang, Mbak. Besok akan saya carikan, ya!" 

"Ga bakal ada di pasar, abang. Tuh paling di warnet," kata Suminah sambil memberikan sejumlah uang untuk dua ikat bayam dan tempe. 

"Warnet, hmm…warung apalagi?" bisik si abang dalam hatinya. Dalam hatipun dia berbisik, saking malunya. Juga takut salah.

 ***
Suminah, benar-benar sudah kecanduan fesbuk. "Hidupku semakin berwarna dengan fesbuk," katanya seperti ditulis dalam statusnya. Ya, aktifitas Suminah menjadi bertambah. Kini, selain bersih-bersih rumah, masak, mencuci, dan mengurus anak, dia harus mengerjakan satu pekerjaan lagi, yaitu melaporkan pekerjaan-pekerjaannya di fesbuk. Sehari saja tidak membuka fesbuk, dia merasa sangat menderita. Seperti hari itu. Seharian dia merengut. Senyum manis yang biasanya disajikan bersama hidangan sarapan atau makan malam untuk suaminya, kini tidak ada.

"Hmm…, sepertinya ada yang kurang di meja makan ini. Apa ya, sayang?" Suaminya mencoba menggoda. Imran memang suami yang romantis.

"Kenapa, sariawan, ya?" Suminah masih bungkam. Bibirnya tambah tebal. Mukanya makin kusut.
"Kenapa, sayang? Ayo bicarakan masalahmu ke ayah."

"Ini, Ay, HP Inah rusak." Imran tersenyum. 

"Pasti ga bisa buka fesbuk, ya?"

"Iya." Jawab Suminah sambil terus merengut. 

"Ya sudah, besok kita tukar sama yang baru. Oke!"

"Beneran, Ay?" Mendadak riak wajah Suminah merekah.

"Kapan sih, ayah bohong? Ayo senyum dulu!"

"Makasih ya, sayang," kata Suminah sambil tersenyum.

"Nah, itu baru istri ayah yang cantik."

***
Suminah pun ceria lagi. Dengan sebuah BlackBerry gemininya dia merasa semakin percaya diri. Sebab, keterangan di bawah statusnya tidak akan tertulis lagi, "…..melalui 0.facebook.com" yaitu sarana membuka fesbuk via HP secara gratis. Sekarang tulisanya akan, "….melalui BlackBerry." Lebih gagah dan lebih menunjukkan strata sosial yang lumayan tinggi. Suminah pun semakin semangat meng-update status. 

"Alhamdulillah, suamiku baik banget." "Enak juga ya, pake BB." Suami Suminah merasa tenang, sekarang istrinya sudah ceria kembali. Baginya keceriaan istri merupakan kesuksesannya dalam berumahtangga. Sedikitpun Imran tidak peduli dengan aktifitas istrinya. Meski pernah beberapa kali Suminah membiarkan anaknya hampir celaka. Pernah anaknya tiba-tiba sudah ada di tengah jalan, dan hampir tertabrak motor. 

Ketika itu Suminah sedang duduk di pekarangan rumah; asyik dengan fesbuknya. Imran hanya memperingatinya ketika itu. Sekalipun, Imran tidak pernah marah. 

"Saatnya shoping ke pasar. Ada yg mau ikut??" Tulisnya, ketika dia mau berangkat ke pasar. Suminah berangkat ke pasar dengan anaknya. Ketika itu pasar ramai sekali. Entah mengapa. Tidak seperti biasanya, kala itu manusia menyemut, sulit sekali untuk jalan. Suminah menurunkan anaknya yang dari tadi ada di pangkuan. Tangannya langsung mengambil BlackBerry kebanggaannya dari dompet. Dan, tidak salah lagi, dia langsung membuka fesbuk. Hendak menulis status,
"Duh, pusing… banyak banget manusia di pasar ini. Gak seperti biasanya. Susah banget jalan." 

Satu komentar masuk. "Ke mall aja, jeng" 

"Ah, aku kan peduli sama pedagang kecil, wkwkwk" balas Suminah. 

"Peduli, atau bokek," komentar dari beda orang masuk lagi. 

"Sory yach, tabunganku masih utuh, tuh" balas Suminah. 

"Betul, bu! Kita harus peduli sama pedagang kecil," seseorang mengomentari.
"@Bundakoe: Sepakat, kita kepinggirkan dulu gengsi. Kita haru peduli. Saat ini, para pedagang di pasar tradisional semakin terinjak oleh mall-mall megah. Mall sama saja pasar. Toh yang di mall juga sama dengan yg dipasar. Kangkung ya, kangkung. Bayam ya bayam. Tak berbeda dengan yang di pasar sedikitpun." Tulis Suminah panjang lebar. 

Tiba-tiba, Suminah dikejutkan oleh suara riuh orang-orang. Melihat ke bawah, Qaisya, anaknya sudah tidak terlihat di sampingnya.

"Astaghfirullah, ade!" Dia bingung setengah mati. Kemana harus mencari anaknya. Dia menanyakan ke setiap orang yang bertemu dengannya. Tapi tak seorang pun mengetahui. Suminah menangis. Dia terus bertanya kepada orang-orang sambil menuju tempat kerumunan orang yang agak jauh di seberang sana. Dia berharap di sana dia mendapat petunjuk tentang keberadaan anaknya. Sampai disana, dia tidak bisa melihat apa yang sedang dikerumunin orang-orang. Dia hanya melihat orang-orang mukanya terbakar amarah. Ada yang mengumpat, ada juga yang menghantamkan tinjunya ke tengah kerumunan orang itu. Lalu datang beberapa orang polisi melerai dan membubarkan kerumunan itu. Ternyata seorang pemuda. Usianya kira-kira 23 tahun. Mukanya sudah tidak berupa lagi. Penuh darah. Menurut orang-orang, dia tertangkap basah mencopet tas milik seorang nenek-nenek.

Suminah semakin bingung. Kemana dia harus mencari anaknya. Anaknya baru bisa berjalan. Suminah pun tidak henti-hentinya menangis. Sambil menangis dia mengambil BlackBerry dari dalam tasnya.

"Dimanakah anakku, ya rabb.Pertemukanlah aku dengannya," tulisnya dalam fesbuk. 

Dalam kebingungan, seseorang menyapanya. 

"Mbak, kenapa nangis?" Ternyata dia Mumun tetangganya.

"Anakku hilang, Mun."

"Kapan? Kok bisa?"

"Tadi ketika masuk pasar. Ketika aku buka fesbuk."

"Astaghfirullah. Mungkinkah anak itu?" Suminah langsung merangah.

"Apa? Anak yang mana? Kenapa dengan anak itu?" Suminah mencecar Mumun dengan pertanyaan.

"Aku tidak melihatnya secara langsung sih, Mbak. Cuma tadi kata tukang tempe, ada anak kecil tertabrak motor. Katanya langsung dibawa ke rumah sakit."

"Astagfirullah, mungkinkah itu Qaisya?" Suminah menangis sejadi-jadinya. Dia membayangkan seandainya anak yang tertabrak itu anaknya. Di tengah kepanikan, tak lupa dia menulis status, 

"Ya, Allah semoga anak yang tertabrak itu bukan anakku," tulisnya.

"Mun, antarkan aku ke rumah sakit, ya! Aku penasaran."

"Ya, Mbak. Mari." Diantar Mumun, Suminah pergi ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, dia langsung menuju UGD. Ternyata benar, anaknya sedang terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah. Tangis Suminah pun pecah. Segera dia mengambil ponselnya. 

"Ya Allah, kuatkanlah anakku," tulisnya di status.

"Maaf, Bu. Anak ibu sudah pergi," kata dokter. Sesuatu seperti menimpa dada Suminah. Dia tidak bisa bernafas. Pandangannya perlahan kabur. Akhirnya, menjadi gelaplah alam sekitarnya. Suminah tak bisa melihat apa-apa. Blackberry yang selalu lekat di tangannya tak terlihat sama sekali. Tenaganya sedikit-sedikit pergi dari raganya. Suminahpun runtuh, rata dengan lantai tempatnya berdiri.

 *** 

Pagi itu, Suminah bangun dengan sejuta rasa bersalah. Dia tidak percaya kalau anaknya sudah meninggal, meninggal akibat kelalaiannya. Matanya masih sembab. Semalam, dia tak berhenti menangis. Beruntung, Imran ikhlas dan tidak terlalu menyalahkan Suminah. Imran cukup bijak dalam menghadapi masalah rumah tangganya. Itulah yang menjadi kunci rumahtangganya langgeng. Kalau saja Imran bukan penyabar, mungkin Suminah sudah lama menjanda.

"Sudahlah, sayang. Kita ikhlaskan saja anak kita pergi." 

"Tapi semua karena salah Inah." Suminah sesegukan.

"Bukan, semua sudah takdir Allah. Hanya mungkin jalannya melalui ketelodoran Inah." Imran mencoba menenangkan. 

"Terima kasih ya, Allah, kau anugerahkan hamba suami yang pengertian," Suminah tidak lupa menulis status. 

"Lain kali, kamu harus hati-hati, ya!"

"Ayah tidak melarang kamu fesbukan. Tapi jangan sampai kamu terlena, ya!" Imran menasehati. Obrolan mereka terhenti dengan kedatangan Mang Sapri. Dia yang mengurus sapi milik ayahnya Suminah.

"Ada apa, Man?" tanya Suminah.

"Bapak, neng."

"Bapak kenapa, Mang? Sakit lagi?"

"Bapak tadi tiba-tiba pingsan."

"Astaghfirullah."

"Tenang, tenang. Yuk kita lihat kondisi bapak," ujar Imran. Dalam kondisi panik, seperti biasa, Suminah selalu menulis status, 

"Ya Allah, semoga Bapakku tidak kenapa-kenapa." 

Tiba di rumah, terlihat bapaknya sedang terbaring di atas ranjang di kamarnya.

"Ya Allah, Bapak!!!" Suminah menangis.

"Sudah tenang dulu. Mang Sapri tolong panggil pak mantra ya!"

"Baik, Pak."

"Inah, kamu ambil air minum buat bapak."

Suminah pun lantas pergi ke dapur. Lama dia tidak kembali ke kamar. Imran menyusulnya ke dapur.

"Ya, Allah, Inah. Mana airnya?" Imran mulai kesal menyaksikan istrinya yang sedang memainkan HP. 

"Sebentar ayah, tinggal dishare."

Imran segera menyambar gelas yang ada di samping Suminah. Dia tidak bicara. Kali ini, Imran sepertinya habis kesabarannya.

"Bapak sudah hampir sekarat juga kamu masih saja maen Fesbuk. Tahu waktu, dong." Nada bicara Imran meninggi.

"Ya, Allah, baru aku melihat suamiku marah," tulis Suminah di Fesbuk. Sambil mengikuti suaminya ke kamar bapaknya. Sebelum mantri datang, bapak Suminah sudah meninggal. Di tangannya masih tergenggam handphone dengan sebuah akun fesbuk yang masih terbuka. Di dinding Fesbuk tersebut ada tulisan yang belum sempat dibagikan, 

"Wah, sapi-sapiku bertambah gemuk, nih. Alhamdulillah. Mungkinkah esok aku akan melihatmu lagi, sapi???" Sebelum pingsan bapaknya Suminah sempat menulis status. Sayang, belum sempat dibagikan. Ternyata, bapak dan anak sama-sama Fesbukmaniak. 

***
 ========================================== 
* diterbitkan di Majalah Ummi, edisi 1 Agustus 2011

Selaksa Sepi



E
ntah siapa yang mengerti perasaanku kini selain Tuhan. Botol bekas, WC yang temboknya setengah, buku-buku, cecak yang berteriak sepertinya tak akan mengerti arti dari goncangan jiwaku ini. Mereka hanya bisa melihatnya berguncang hebat, tapi tak akan bisa menafsirkannya. Hidup sendiri yang selalu ditebas sepi, sangat rentan sekali dengan godaan yang bisa saja mengalir lembut lewat angin malam, lewat desah nafas, atau lewat aliran darah. Dosa terhadap manusia bisa saja diminimalisasi, tetapi dosa kepada Tuhan, mengalir sendiri begitu saja; tanpa rencana, tanpa niat dari pelakunya.
Inilah mungkin rahasianya, mengapa Adam protes kepada Tuhan untuk diberi teman; teman berjalan, ataupun teman berkencan. Teman sharing pikiran, maupun teman sharing birahi. Aku yakin Adam kesepian. Bagaimana tidak, dia hanya berteman dengan alam; tak ada teman bicara. Dia hanya bisa bicara pada pepohonan, pada gunung, pada air yang mengalir, pada Malaikat selalu konsisten dalam taat. Aku bisa merasakan kesepian yang dirasakanAdam tempo dulu. Apalagi waktu itu, belum ada café internet, belum ada warteg, belum ada play station, belum ada bajaj, belum ada angkot, belum ada listrik, belum ada musik.
"Tuhan aku kesepian, bisakah Engkau ciptakan bagiku teman," mungkin begitu kata Adam ketika curhat tentang perasaannya. Tuhan Maha Mengerti perasaan makhluknya. Jangankan yang diucapkan, yang terlintas dipikiran juga Dia tahu. Jadi, siapa yang bisa bersembunyi dari pantauan Tuhan? Karena pengertiannya, Tuhan menciptakan buat Adam seorang teman perempuan yang bernawa Hawa. Kisah cinta mereka paling romantik, dan perkawinan mereka paling banyak menghasilkan anak.
Dulu Adam kesepian dalam kesepian.Sedangkan aku ini kesepian dalam hiruk pikuk dan segala keramaian. Karenanya, dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk hidup menyendiri. Aku ingin mendapatkan kehangatan dalam kesepian. Aku indekos di sebuah kamar di tingkat dua. Kuhabiskan waktu dalam renungan, dalam dzikir, dalam berpikir. Kalau siang, aku berjalan menyusuri lorong kasab. Karena aku sadar untuk survive tak cukup dengan makan istighfar, atau minum tasbih, tahlil, dan tahmid. Jaman hidupku kini, segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Termasuk menghalalkan wanita. Kalau tak punya uang, jangan harap bisa meminang perawan, atau janda sekalipun. Keadilan juga sekarang dihargai dengan uang. Idealisme juga tidak ada yang konstan, jika sudah berhadapan dengan gepokan uang. Uang, uang, oh uang!
Adam dulu tidak protes menginginkan uang. Karena dulu semua masih gratis. Apapun boleh dimakan dengan cuma-cuma. Apapun boleh, hanya satu yang tak boleh dimakan, yaitu buah Khaldi. Buah itulah yang menjadikannya terdampar di bumi ini. Tapi kini, jamannya uang yang berkuasa. Makanya, manusia berlomba-lomba menumpuk uang, berbagai cara ditempuhnya. Dengan berbagai dalih untuk menutup keboborokan caranya mendapatkan uang. Mata manusia menjadi buta dan tuli, buta menyaksikan orang-orang miskin di sekitarnya, tulis mendengar seruan untuk berbakti kepada Tuhannya. Uang, uang, oh uang!
"Aku ga ingin pendidikan tinggi, yang penting aku punya uang banyak," kawanku pernah berkata demikian ketika kami sedang ngopi bareng.
"Ingat, nak! Uang selalu benar," kata tuan Craft pada Sponge Bob.
"Pulangkan saja aku ke orang tuaku, anak-anak bawa terserah kamu," kata Bi Icih tetanggaku kepada suaminya. Saban hari mereka bertengkar masalah uang. Bi Icih selalu iri jika tetangganya membeli perabotan baru, atau perhiasan baru. Somad yang hanya tukang sol keliling tentu tidak bisa memenuhi semua nafsu serakah istrinya, untuk memberi makan yang layak pada anak-anaknya saja sangat susah.
"Kamu tak bisa menjadi suami anakku. Mau kau kasih makan apa anakku ini," bentak Pak Jumadi ketika aku menyatakan maksud melamar Nira, anaknya. Uang, uang, oh uang.
"Aduh," tiba-tiba aku dikejutkan oleh perasaan panas yang menyengat bibirku. Perasaan itu diikuti bau rambut terbakar.
Ternyata rokok yang dari tadi nempel di bibirku dan lupa kuisap, apinya sudah sampai difilternya. Bahkan sudah mencapai bibirku. Kumisku yang sudah lama tak dicukur ikut juga menjadi korban api dari barang yang difatwakan haram oleh sebagian ulama yang tidak suka rokok, dan tidak haram menurut ulama lain yang suka merokok.
Rokok menjadi temanku satu-satunya untuk menghabiskan waktu. Dia yang biasanya meng-iyakanku jika aku berbicara tentang apapun. Aku suka padanya, dia tidak pernah mendebatku, walaupun mungkin dia tidak setuju dengan sebagian ucapanku. Tapi, disinilah aku menjadi raja. Dia tidak leluasa bergerak. Dia sudah kugigit, kucapit dengan bibirku.
"Sudah, kamu manut saja, ya!" Dia hanya diam. Kekesalannya terlihat pada asap yang dikeluarkannya. Kalaupun kecewa, dia tidak bisa apa-apa.
Kini dia marah. Karena aku dari tadi mencuekannya. Aku lebih asyik bergumul dengan lamunan yang biasa menghiasi waktu luangku. Dengan lamunan segala sesuatu menjadi mudah. Menjadi kaya juga sangat mudah, asal rajin saja melamun. Setelah selesai melamun, habis pula kekayaan. Ingin jadi apapun bisa diraih dengan melamun, setelah selesai melamun, semuanya over.
Sepiku menjadi hangat dengan lamunan. Aku bisa menghadirkan teman dengan berbagai karakter yang diinginkan. Yang pasti, aku hanya akan menghadirkan teman-temanku yang tak akan mendebat atau mengguruiku. Aku hanya akan mengajak temanku yang hanya biasa meng-iyakan dan menyetujui setiap gagasanku. Karena dalam lamunanku, akulah yang paling berkuasa, paling pintar, dan paling segalanya.
***
            Belakangan ini aku sangat khusyuk beribadah. Entah mengapa, aku begitu menikmati gerakan berdiri, ruku, dan sujud dalam shalatku. Dzikirku juga begitu. Terasa nikmat sekali. Hatiku terasa tenang. Kegundahan-kegundahan akibat hiruk pikuk duniawi juga sepertinya tidak terasa lagi. Aku lebih bisa merenungi setiap lantunan ayat Alquran dari tape compo. Aku selalu berharap kepada Tuhan agar aku bisa terus tetap dalam keadaan tenang seperti ini.
            Setan yang biasanya rajin mengujungiku dengan membawa foto-foto telanjang wanita, kadang hanya foto dadanya saja, kadang pahanya, dan kadang bagian-bagian cewek lainnya kini sudah beberapa  hari alfa. Aku sih beruntung dia tidak datang, dan berharap dia tidak datang terus agar aku bisa mati tanpa membawa imajinasi perempuan-perempuan telanjang kiriman setan itu. Setan nampaknya mengalami kesulitan menembus barikade pertahanan dzikirku.
            Namun bukan setan namanya jika tidak pintar mencari cara menggoda manusia. Sekecil apapun ada celah, dia bisa masuk ke ruang pikiran dan imajinasi manusia. Itulah mungkin mengapa iman manusia itu fluktuatif, karena adakalanya setan mengendalikan manusia itu.
            Seperti pada waktu itu, ketika aku terhanyut dalam derasnya lamunan; ketika sepi memagut tiada henti. Dia datang dengan membawa foto telanjang wanita, yang kali ini lebih cantik dari biasanya. Dia terus berceramah dan menghipnotis otakku untuk menafsir visualkan setiap kata yang keluar dari mulut dewernya. Begitu indah ucapannya, hingga aku terbuai dalam fantasi yang menggelorakan api.
"Bagaimana, mau tidak,"  katanya. Belum sempat aku menjawab, dia sudah nyerocos lagi.
"Tenang deh, semua beres. Semua aku yang ngatur. Pemilik kosan, ketua RT bahkan Presiden dan warga yang lain dijamin ga bakal tahu."
 Akupun hanyut dalam hangatnya paha wanita kiriman setan tadi. Imanku entah dimana. Mungkin terselip dalam saku celana atau entah dimana. Setan tertawa terbahak-bahak menyaksikanku tunduk pada rayunya. Kini dia telah menguasaiku. Aku terjerat dengan tali kutang perempuan.
Sebenarnya aku sudah tidak ingin perbuatan nista ini lagi. Dan sudah menekadkan diri untuk menikah. Namun, menikah tidak gratis. Saya terauman dengan ucapan Pak Jumadi, Pak Nurdin,  Pak Khalid, dan bapak-bapak wanita lainnya. Semua menolakku menjadi suami anaknya, semua pelokannya dengan alasan yang sama, "Kamu mau ngasih makan apa anakku?" Pertanyaan sinis itu yang sampai sekarang menjadi momok bagiku jika aku ingin mencoba melamar wanita baik-baik menjadi istriku. Kebutuhanku aku penuhi di tempat-tempat gelap, bersama kupu-kupu nakal yang cekikikan menggoda.
Setelah itu imanku datang lagi menjumpai. Dia marah kepadaku. Kemarahannya begitu meledak-ledak.  
"Mengapa kamu lakukan itu, tidakkah kau punya aku. Akulah satu-satunya yang bisa mengantarkanmu menghadap Tuhanmu dengan melalui jalan yang indah. Hanya aku yang bisa membantumu merayu Tuhan agar mencintaimu. Bukan setan, bukan pula nafsu bejatmu," katanya begitu keras memekik, memecahkan gendang pendengaranku; memecahkan kantung air mataku hingga meluber membanjiri mukaku.
"Kamu selalu berdoa meminta syurga, mengharapan nikmatnya. Apa dengan begini kamu bisa mendapatkannya, hah?" Kata-katanya kembali menusuk hatiku.
Aku mencoba membela diri. Aku tak mau terus enerus dipersalahkan, karena aku juga sebenarnya tidak mau melakukan perbuatan itu.
"Lantas dimana kamu ketika aku butuhkan? Aku selalu memohon agar kamu tidak meninggalkanku. Aku sudah merasa nyaman hidup dengan petunjukmu. Ketika setan datang dengan segala rayuannya kamu tidak ada. Kamu tidak membantuk, hah!!" Aku marah, tak mau disalahkan begitu saja.
"Lah, bukannya kamu yang menyuruhku pergi?" katanya balik ngeles.
"Kapan aku menyuruhmu pergi?" tanyaku.
"Ketika kamu lalai dari mengingat Tuhanmu dan menafsirkan segala bisikan setan dengan sesuatu yang menurutmu nikmat dan indah. Ketika itu kamu telah condong ke rayuannya setan. Kamu sendiri yang melupakanku. Kamu cuekkan aku, dan kamu asyik dengan kesenanganmu."
Aku tak bisa berkata-kata. Mataku beraca-kaca. Airmata kembali membanjiri wajahku, tembus ke sanubari. Kini perasaan sesal yang memenuhi rongga dadaku. Sedangkan di tempat lain, syetan tak berkomentar sedikitpun. Dia hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertengkaranku dengan imanku.
 Sepertinya imanku masih marah. Ia belum sepenuhnya masuk ke jiwaku. Aku mencoba mendatangkannya lagi lewat tahajud. Namun tahajudku masih terasa hambar. Tak ada lagi kelezatan berdiri, ruku, dan sujud dalam tahajudku. Doa-doaku berhamburan begitu saja dari bibirku tanpa dibarengi kalbu. Kalbuku masih pilu karena iman masih marah padaku. Aku hampa. Jiwaku berkabut. Sepi kembali memagut.***

Cermin


PRIA sangat membenci cermin. Setiap dia menemukan cermin, selalu dipecahkannya. Tak heran, jika di rumahnya tidak ada satu cermin pun yang terpasang. Bahkan, beberapa kali dia ditangkap polisi karena tidak memasang kaca spion di motor bebeknya.

Kebenciannya kepada cermin karena dia selalu merasa diomeli. Kelakuan-kelakuannya yang salah  selalu ditunjukan oleh cermin itu.  

"Hei, mengapa tidak memuji Tuhanmu yang telah memberi wajah."

"Oh, mungkin karena wajahmu tak seganteng Leonardo De Caprio, ya?"

"Mendingan kamu wajahnya tak rata, tuh lihat wajah tembok, datar begitu, mestinya kamu bersyukur." Cermin terus saja nyerocos tanpa memedulikan wajah Pria yang mulai memerah.

"Aaaaah, diaaam…!!."

"Prakkk..!!!! Cermin pecah. Pria meninjunya. Dia marah. Tangannya berdarah. Pecahan cermin berserakan di sekitar tempat pria berdiri.

"Mengapa kamu pecahkan aku? Padahal suatu saat kamu akan membutuhkanku. Dan ingatlah, aku sudah terlanjur berserakan. Pecahan-pecahanku tidak bisa kamu tata lagi seperti dulu,"   sayup-sayup suara cermin terdengar diantara dengus nafas pria yang menahan amarah.

Pria merasa heran, mengapa cermin itu seolah tahu segala perlakuan yang pernah dilakukannya. Bahkan apa yang diucapkan dan diniatkan di dalam hatinya. Cermin seolah tahu betul ketika dia tidur di rumah Sari yang ditinggal suaminya ke luar kota; atau ketika dia pura-pura shalat di rumah Pak Gufron, ayah Mita, gadis incarannya. Saat itu, dia hanya mengucapkan takbir yang dikerasin sambil asyik memainkan game di hapenya. Agar disangka shalat oleh pengisi rumah.

"Kamu itu munafik, Pria," kata cermin yang ada di kamar mandi. 

"Menunjukan perilaku saleh di depan orang-orang. Padahal kamu sengaja menunjukan kesalehanmu untuk menipu orang lain. Kamu jadikan kesalehanmu itu sebagai kedok penutup kejahatn-kejahatanmu. Kamu seolah peduli ketika ayam pak RT hilang, kamu sok perhatian. Padahal kamu sendiri yang menangkap, menyembelih, dan membakarnya di sungai itu bersama teman-temanmu, bukan?" lanjutnya.

Cermin itu sepertinya belum puas mengatai Pria yang sudah mulai terprovokasi oleh ucapannya. Emosinya mulai tersulut. Namun, Pria berusaha tak acuh dengan segala ucapan cermin. Dia lantas mengambil sikat gigi, dan meletakan odol di atasnya. Baru saja dia memasukan air ke mulutnya untuk berkumur, cermin itu berkata lagi,

"Oh, sekarang kamu akan membersihkan mulut busukmu itu. Setelah berpuluh-puluh orang luka hatinya karena ucapan kasarmu. Berapa perempuan menjadi janda karena kamu memberikan berita bohong kepada suaminya. Padahal kamu hanya mau mendapatkan birahi perempuan itu setelah diceraikan suaminya. Dari mulutmu itu juga, kamu mengeluarkan sumpah serapah kepada ibumu, hanya karena ibumu tidak bisa membelikanmu motor hingga akhirnya ibumu mati terserang penyakit jantung karena ucapan-ucapanmu. Ingatlah, odol itu, sikat itu, tak akan mampu membersihkan dosa-dosa mulutmu, kecuali jigong yang menambah aroma busukmu."

Cermin terus saja mengatai Pria, bahkan ucapannya lebih pedas daripada ucapan cermin yang ada di kamar Pria yang sudah lebih dulu hancur. Cermin itu mungkin tidak tahu apa yang terjadi pada saudaranya di kamar. Dia begitu emosi, karena ibu Ratih yang biasa membersihkannya setiap sore, meninggal gara-gara dimarahi Pria.  

"Kamu itu anak yang tidak tahu diri," kata cermin seolah belum puas.

"Apa urusanmu, hah? Ikut campur urusanku," bentak Pria setelah memuntahkan air yang sejak tadi memenuhi mulutnya ke muka cermin.

"Aku cuma mau menunjukan perilaku-perilaku jelekmu yang selama ini kau sembunyikan kepada manusia lain," jawab cermin.

"Kamu munafik, sok suci. Padahal kamu sendiri bejat. Kamu suka melihat orang-orang telanjang di kamar mandi ini. Bahkan orang yang sedang berak pun kau lihat juga. Dasar penjilat, munafik!!"

"Lho, bukankah itu memang tugasku. Aku juga, kan yang menunjukan sisa-sisa makanan yang nempel di gigi bolongmu," cermin tak mau kalah.

"Tapi kau juga begitu suka melihat aurat manusia."

"No problem, toh aku bekerja sesuai fitrahku. Aku hanya menjalankan sunah Tuhan. Satu lagi, Tuhan tidak menyiapkan neraka buatku. Tapi buatmu!"

"Prakkk…!!!" Akhirnya cermin itu pecah. Serpihannya memenuhi kamar mandi. Pria menanduknya, sampai berdarah dahinya.

"Mengapa kamu pecahkan aku? Padahal suatu saat kamu akan membutuhkanku. Dan ingatlah, aku sudah terlanjur berserakan. Pecahan-pecahanku tidak bisa kamu tata lagi seperti dulu," sayup-sayup suara cermin terdengar lagi, mirip dengan suara cermin yang dipecahkan di kamar tadi.

***

Sejak kejadian-kejadian itu, dia menjadi paranoid terhadap cermin. Cermin di rumahnya sudah tidak tersisa satu pun. Dia merasa sudah ditelanjangi oleh cermin. Segala kelakuan buruknya, selalu diungkapkan cermin itu. Karena itu, dia mengumumkan perang terhadap cermin, dimanapun dia bertemu.

"Aku akan membumihanguskan cermin dari muka bumi ini," gumamnya.
Setiap kali dia bertamu ke rumah temannya, dan disana dia melihat cermin matanya langsung melotot. Isi kepalanya  mendidih, tangannya gemetar.

"Kamu kenapa? Tanya Utsman ketika melihat Pria berubah menjadi gemetaran.

"Oh, tidak apa-apa."

"Boleh aku minta air?"

"Oh, ya, sebentar aku ambilkan." Utsman lantas ke dapur hendak mengambil air minum untuk Pria.

Ketika Utsman di dapur, sejurus tangan Pria menyambar cermin yang menggantung di dekat kamar Utsman. Ia lantas menyembunyikan jaket itu di balik jaketnya.

"Hei, apa maumu?" tanya cermin dari balik jaket.

"Diam saja kamu, jangan berisik. Tidak ada tempat buatmu di muka bumi ini."

"Kau masih dendam rupanya."

"Aku bilang diam, bangsat!"

"Kenapa Pria?" tanya Ustman yang datang dengan membawa segelas air.

"Oh, anu, oh, enggak." Pria kikuk.

Akhirnya dia pulang dengan membawa cermin yang akan dihancurkannya.

Dari jembatan, Pria melemparkan cermin itu ke batu-batu yang ada di bawahnya. Batu itu tak bisa berbuat apa-apa. Dan, "Praakkk…" cerminpun pecah.

"Mengapa kamu pecahkan aku? Padahal suatu saat kamu akan membutuhkanku. Dan ingatlah, aku sudah terlanjur berserakan. Pecahan-pecahanku tidak bisa kamu tata lagi seperti dulu," suara cermin yang mirip dengan cermin-cermin yang telah dipecahkan sebelumnya, semakin lama semakin jauh, dan hilang ditelan sungai yang bergemuruh.

***
Pada hari itu, seluruh warga kampung dihebohkan dengan hilangnya cermin dari rumah-rumah mereka. Bahkan, cermin yang menggantung di pos ronda juga raib entah kemana.Cermin yang ada di tempat wudlu masjid pun tidak ada di tempatnya.

"Kampung kita sudah mulai tidak aman, Pak. Sebaiknya siskamling dijalankan lagi," kata Sapri.

"Betul, Pak. Dan seharusnya siskamling itu tidak hanya aktif ketika ada isu ninja, kolor ijo, atau culik saja," tambah Kirman. 

"Iya, sebenarnya itu sudah menjadi program kerja saya. Prioritas saya adalah menciptakan lingkungan kampung yang aman dan tentram. Saat ini saya sedang menggodok langkah-langkah untuk merealisasikannya," kata pak RW.

"Strategi saya, tidak usah grusah grusuh, slowly but sure saja lah. Agar hasilnya maksimal," lanjutnya sambil menyeruput kopi.

"Tapi harus sigap, dong, Pak. Keadaan sudah genting," timpal Kirman.

"Betul, Pak. Sekarang sudah tiga perempat warga kampung yang kehilangan cermin. Nanti, bisa saja bukan cermin yang hilang, tapi kampung ini."

"Hahaha…mana mungkin ada orang yang mampu mencuri kampung ini."

Pak RW sebenarnya merasa senang dengan adanya isu itu. Sebab, dia juga pernah dipermalukan oleh cermin. Tapi dia ingin tahu siapa sebenarnya yang melakukan penculikan cermin-cermin di kampungnya.

"Nanti akan saya dukung dia," gumamnya dalam hati.

Pak RW masih ingat bagaimana dia dikatakan munafik, jahat, koruptor, pembohong publik, menggunakan kekuasaan untuk memaksa para wanita melayaninya, dan sebagainya. Tapi dia masih belum berani memberangus cermin-cermin itu.

"Aku ini pemimpin, kalau cermin itu aku hancurkan gara-gara dia suka mengomel, nanti dikatakan pemimpin yang anti kritik," gumamnya.

"Biarkan saja, biar jaman yang memusnahkannya," gumamnya lagi.

***

Sudah seminggu kasus raibnya cermin itu melanda. Tadi malam, giliran rumah Imran dan Suminah yang kehilangan cermin. Bahkan, cermin yang menjadi kaca pintu lemarinya juga hilang.

Meski demikian, Pak RW belum melakukan tindakan apapun. Tiap hari warga memberikan laporan, namun jawabnnya selalu saja ngambang.

"Tenang, saya sedang menyusun strategi."

"Ah itu mah kasus biasa. Terlihat istimewa karena yang dicuri cermin, bukan mayat bayi atau kutang perempuan seperti yang sudah banyak diberitakan."

"Ya, besok saya akan rapat dengan pengurus RW lain."

Respon pak RW tidak memberikan kepastian atau ketenangan bagi para warganya.

Akhirnya mereka mengajukan laporan ke Kapolsek.

"Kasus hilangnya cermin itu sudah seminggu, Pak. Seluruh warga kehilangan cerminnya. Kecuali 3 kepala keluarga lagi, itu juga karena mereka tidak punya cermin," Kirmann yang bertindak sebagai juru bicara warga menyampaikan laporannya.

Polisi itu manggut-manggut.  Seolah mengerti apa yang disampaikan Kirman. Keterangan tidak diketik dalam berita acara laporan,  dia malah melepaskan tatapan kosong menerawang ke masa beberapa bulan yang lalu, melukis kembali kenangan ketika dia menerima ejekan menjengkelkan dari cermin.

"Kamu itu polisi. Semboyan melayani masyarakat. Tapi tak mau melindungi jika masyarakat itu tak ada uangnya. Kamu ingat, ketika pak Kurmin melaporkan kehilangan anaknya yang autis, kamu tidak menggubrisnya karena dia tidak meberimu uang. Namun, ketika bandar miras minta dikawal ketika mau ngirim ke kota Cikeras kamu begitu sigap dan siap karena dibayar dengan jumlah besar. Kamu itu melayani atau mau dilayani masyarakat."

Muka polisi itu memerah. Kebenciannya kepada cermin itu muncul lagi. Sedangkan Kirman masih tetap di tempat tadi, melaporkan kasus pencurian cermin itu.

"Kalau saya usut kasus ini sampai pelaku tertangkap, maka cermin-cermin itu akan semakin melunjak. Habislah reputasiku diinjak-injaknya," katanya dalam hati.

"Baiklah, Pak. Laporan dari bapak saya sudah terima. Insya Allah secepatnya saya akan kirim tim ke TKP. Sampaikan kepada warga kampung semuanya agar tetap tenang, dan tidak panik. Ini hanya kasus biasa. Tidak terlalu serius," katanya kepada Kirman.

Namun, sampai seminggu kemudian tim kepolisian tidak kunjung datang. Akhirnya Kirman dengan dukungan warga menyampaikan laporan ke Kapolres, Bupati, Gubernur, Kapolda, dan bahkan sampai tak ada lagi semangat untuk melaporkan. Seluruhnya menyampaikan jawaban yang ngambang, dan memberikan harapan yang hampa. Sementara warga, hanya bisa pasrah pada kenyataan. Bahwa semua ternyata membenci cermin.

***
Menyebarlah berita tentang kasus itu. Semakin banyak laporan, semakin banyak pula orang-orang yang menghancurkan cermin. Bahkan, tak terhitung sekarang berapa jumlah pelakunya. Dendam Pria terhadap cermin ternyata sudah menular kepada orang lain yang merasa terancam. Terancam terbuka semua rahasia-rahasia negatifnya. Makanya, dalam sekejap, cermin telah hilang dari seluruh negeri.

Manusia pun bebas melakukan apa saja. Tak ada lagi yang merasa terancam. Tak ada lagi yang tahu perilaku-perilaku yang menyimpang. Yang punya kesempatan korupsi semakin giat menambah jumlah uang korupsinya. "Ini investasi, kalau saya sudah tidak menjabat lagi, tidak mungkin ada kesempatan seperti ini. Bagaimana nasib anak-anakku?" katanya kepada dirinya sendiri. Sebab, hanya dirinya sendiri yang biasanya diajak ngobrol sekaligus diskusi masalah strategi.

Begitu juga para pekerja, semakin bebas menilap barang milik bossnya. Penjual mengurangi timbangan barangnya. Pembantu rumah tangga berani selingkuh dengan majikannyayang gatal. Sekarang semua tak perlu ragu, karena cermin sudah tiada. Sudah musnah. Sudah pergi bersama bersama angin yang menghempaskan nurani.

***

Pria sekarang merasa menang. Dendam membara pada cermin mulai mereda. Kini dia tidak ada lagi yang mengganggu ketika dia ingin masuk ke rumah para janda di kampungnya. Dia tak lagi merasa dibuntuti. Dia tak merasa diawasi.

Namun, ada yang ganjil dirasakannya ketika bertemu orang-orang. Mereka selalu membuang muka sambil tertawa.

"Apa ada yang salah denganku, ya?"

Akhirnya dia menemui Kirman. Dan bertanya ada apa dengan dirinya sehingga setiap orang yang bertemu dengannya selalu tertawa.

"Kenapa, ya, Pak?" tanyanya setelah beberapa lama bercerita.

Sebelum menjawab Kirman malah tertawa terbahak-bahak.

"Kamu habis nyukur kumis ya?

"Iya." Jawabnya masih dengan keheranan.

"Lihat, kumismu gundul sebelah, topimu miring kaya orang ga waras, hahahaha….." kata Kirman sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Hmmm….ini gara-gara kamu juga cermin. Mengapa kamu musnah?"

"Bukankah sudah aku katakan, kamu pasti memerlukan cermin dalam hidupmu. Kamu perlu cermin. Tanpa cermin kamu menjadi culun, kan? Menjadi lucu, kan? Lucu karena penampilanmu yang asal-asalan. Tidak bisa menyeimbangkan penampilanmu, kan? Kini kamu tahu, bahwa kamu ternyata butuh aku," samar-samar dari kejauhan ada suara yang persis mirip suara cermin-cermin yang dipecahkan Pria.

Panas Pria karena cermin pun kini mulai dingin. Dan dia berjanji untuk memasang kembali cermin di dinding rumahnya. Bahkan, digantung didadanya.***

Klender, 3/13/2011 8:27:57 PM