Assalamualaikum...Selamat datang di Cepi's Notes. Sesuai judulnya, blog ini hanyalah berisi catatan-catatan pribadi saya tentang beberapa hal yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Karenanya, tentu tidak menjamin kepuasan Anda, hehehe... Terima kasih telah mampir.
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Marah


B
aru saja mata saya mau terpejam, bermaksud mau menikmati qailulah (tidur siang), saya dikagetkan dengan keributan dari tetangga sebelah. Terdengar beberapa orang ibu-ibu melerai sebuah pertengkaran antara anak perempuan dengan ibunya yang udah renta.  Diantara riuh suara orang-orang yang melerai, terdengar suara yang sangat keras, "Kalau ada suami gua lu ga berani ngomong," kata suara perempuan yang saya yakini itu suara anaknya.
            "Sudah, hei jangan, kamu sedang emosi," suara iu-ibu terdengar melerai. Entah apa yang akan dilakukan dan siapa yang melakukan ketika itu. Dugaan saya, mungkin ada seseorang dari kedua yang bertengkar itu yang akan melakukan tindakan kekerasan fisik dengan suatu benda.
            Setelah beberapa saat, dan dinilai sudah mereda emosi mereka, ibu-ibu yang tadi melerai tampaknya udah pergi ke rumah masing-masing. Namun, setelah itu, pertengkaran kembali tersulut. Si ibu kini berani juga melawan dengan kata-kata yang keras juga, padahal beberapa hari yang lalu dia hanya diam, sumpah serapah dimonopoli sama sang anak.
            "Lu gila, orang mau makan dibuangin. Emang gua nyusahin elu. Gua apa-apa sendiri, gila lu," kata sang ibu. Si anak pun tak mau kalah, dia menimpal, "Makanya kalau ga mau hua keluarin nurut sama omongan gua. Lu berak dimana-mana, elu yang gila" katanya. "Elu yang gila," bantah si ibu. Dan banyak lagi kata-kata kotor yang keluar, sampai telinga saya mau robek rasanya. Ingin sekali menyumpal mulut keduanya.
Pertengkaran semacam itu sudah beberapa hari terdengar dari tetangga sebelah kosan saya. Saya tidak tahu persis berapa lama mereka bertengkar karena saya baru  bertentangga dengan mereka sekitar semingguan. Tapi ketika itu, semua orang tak acuh. Termasuk saya. Mungkin mereka tak mau masuk ke dalam urusan internal keluarga orang lain. Saya masih belum mengetahui akar permasalahannya, sehingga seorang anak begitu berani memarahi ibunya sampai teriak-teriak dan dengan kata-kata kasar juga kotor.
Si ibu rupanya tinggal di salah satu anaknya. Sebab tadi dia sempat mengucapkan, "Emangnya anak gua lu doang?" Tadi sempat terdengar dari anaknya kata-kata tai, sembarangan, dan lain-lain. Saya menduga si ibu sudah tua dan bahkan sudah pikun. Si anak merasa terganggu dengan ulah ibunya. Entahlah bagaimana  persoalan sebenarnya, saya belum sempat wawancara ke tetangga yang lain.
Mengapa orang begitu cepat marah? Cinta, seolah sudah tidak membumi lagi. Permasalahan sepele bisa menjadi besar. Manusia menjadi mudah marah. Wajah-wajah terlihat mengandung bara api. Tersinggung sedikit urusannya golok, parang, dan sebagainya.

Tak Semudah Narik Kolor

Menyikapi mudahnya pencalonan anggota legislatif pada pemilu 2009 seolah ada tren baru dalam dunia politik kita. Ketika kualitas calon tidak lagi dipertimbangkan, 'manusia beruang' kini diutamakan. Apa yang akan terjadi terhadap bangsa ini jika para petingginya asal-asalan???

Tanpa bermaksud meremehkan para calon legislatif yang sudah ada,-karena saya juga sadar belum tentu bisa makanya tidak memaksakan diri mendaftar- jika keraguan itu ada. Masalahnya jika suatu perkara itu diserahkan kepada siapapun yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran begitu sabda nabi. Artinya, sejak dahulu Islam mengajarkan bahwa siapapun yang diserahi urusan haruslah sesuai dengan kualifikasinya. Apalagi ini untuk kepentingan yang menyangkut kehidupan orang banyak.

Tugas para anggota dewan sesungguhnya tidak semudah narik kolor. Karena itu dibutuhkan kesiapan segalanya dari mereka yang berniat duduk di kursi dewan. Tantangannya pun banyak, harta dan wanita dua hal yang sangat jelas di depan mata. Sudah banyak korban dari keduanya; banyak anggota dewan yang terpaksa harus 'ngaji' -semoga demikian- di balik jeruji besi, meskipun asramanya tak seperti mereka pelaku maling ayam.

Disini jelas sekali bahwa siapapun yang akan menjadi anggota legislatif harus benar-benar orang yang mempunyai niat yang untuk mementingkan kepentingan rakyat dan negara. Di sana mereka ada atas nama rakyat. Salah besar jika niatnya adalah untuk mencari kekayaan.